catmera, Jakarta – Setiap tanggal 10 Desember, dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Pada peringatan tahun 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Our Everyday Essentials”. Tema ini menegaskan bahwa HAM bukan hanya konsep global, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. Nilai seperti kesetaraan, martabat, kebebasan, dan keadilan melekat dalam aktivitas paling sederhana.
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) yang lahir 76 tahun lalu tetap relevan menghadapi kondisi dunia modern. Kampanye internasional tahun ini mendorong publik kembali melihat HAM sebagai fondasi interaksi sosial, kebijakan negara, serta dasar perlindungan individu.
PBB melalui Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) menyampaikan bahwa HAM hadir di ruang keluarga, ruang digital, dunia kerja, hingga ruang publik. Konsep tersebut menjadi pengingat bahwa hak setiap orang harus dihormati tanpa kecuali.
Tema ‘Our Everyday Essentials’ Soroti Relevansi HAM di Kehidupan Modern
Tema 2025 menggarisbawahi dua pesan utama. Pertama, HAM tetap menjadi prioritas global dalam menghadapi perubahan zaman. Kedua, HAM berada di tengah aktivitas manusia setiap hari. Dunia menghadapi ketidaksetaraan, konflik, perubahan iklim, dan perpecahan geopolitik. Karena itu, penghormatan HAM perlu menjadi kesadaran bersama.
Kepala HAM PBB Volker Türk menekankan bahwa HAM adalah pedoman moral untuk menghadapi masa krisis. Ia menyebut nilai HAM hadir dalam tindakan sederhana seperti membaca berita, makan bersama keluarga, hingga menyuarakan pendapat secara bebas.
“Hak asasi manusia selalu terlibat dalam interaksi kita sehari-hari, mulai dari menghabiskan waktu bersama keluarga hingga menikmati makanan kesukaan,” kata Türk. Pesan tersebut memperkuat pemahaman bahwa martabat manusia tidak boleh dinegosiasikan, baik dalam lingkup domestik maupun negara.
Tahun ini, PBB juga mendorong masyarakat ikut kampanye digital melalui tagar #OurEverydayRights. Ajakan tersebut bertujuan membuka ruang dialog dan berbagi pengalaman mengenai peran HAM dalam kehidupan sehari-hari.
Hak yang Masuk dalam UDHR dan Pentingnya Implementasi bagi Negara
UDHR memuat hak dasar yang wajib dijamin negara. Pasal 19 menegaskan kebebasan berpendapat, Pasal 26 mengatur hak atas pendidikan, sementara Pasal 24 menjamin hak atas istirahat dan waktu luang. Pasal 25 juga memuat hak atas standar hidup layak termasuk sandang, pangan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Walau bersifat deklaratif dan tidak memaksa secara hukum, UDHR menjadi fondasi banyak aturan internasional. Dokumen ini menginspirasi lahirnya konvensi internasional, sistem perlindungan pengungsi, undang-undang anti-diskriminasi, hingga kebijakan jaminan sosial di berbagai negara.
Data PBB menunjukkan UDHR merupakan salah satu dokumen paling sering diterjemahkan di dunia, tersedia dalam lebih dari 500 bahasa. Fakta tersebut menunjukkan jangkauan universal perkembangannya di berbagai budaya.
Indonesia juga memasukkan prinsip HAM dalam konstitusi. UUD 1945 Pasal 28 menjamin hak warga atas kebebasan berekspresi, pendidikan, hingga perlindungan hukum. Implementasi HAM terus menjadi pekerjaan bersama pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional.
Sejarah 10 Desember Hari HAM dan Pengesahan Deklarasi Universal 1948
Hari HAM lahir pada 10 Desember 1948, ketika Majelis Umum PBB mengesahkan UDHR sebagai respon tragedi Perang Dunia II. Dunia saat itu membutuhkan kerangka moral untuk mencegah kekejaman serupa terulang. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen global menjaga martabat manusia.
Empat tahun setelahnya, pada 1952, United Nations Postal Administration merilis perangko peringatan Hari HAM yang menerima pesanan lebih dari 200.000 unit sebelum diluncurkan. Respons tersebut menjadi bukti bahwa kesadaran publik terhadap HAM terus tumbuh sejak awal pengesahannya.
Seiring perkembangan zaman, UDHR tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi dasar penciptaan kebijakan modern. Aktivis, lembaga negara, hingga organisasi internasional menggunakan UDHR sebagai rujukan untuk memperjuangkan hak minoritas, perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.
Pesan Global 10 Desember 2025: Soliditas HAM untuk Masa Depan Lebih Adil
Melalui kampanye 2025, PBB mengajak negara dan publik memperkuat solidaritas. Tantangan global seperti disinformasi, konflik digital, ketimpangan teknologi, dan perubahan sosial menuntut pendekatan HAM yang adaptif. Prinsip HAM dianggap mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai kemanusiaan.
Pada era kecerdasan buatan, privasi digital juga menjadi isu baru. Implementasi HAM di sektor teknologi dibutuhkan untuk mencegah penyalahgunaan data, diskriminasi algoritma, atau penyebaran ujaran kebencian.
Dengan kesadaran kolektif, penghormatan HAM dapat diterapkan ke berbagai sektor, mulai dari ruang kelas hingga ruang rapat pemerintahan.
Kesimpulan: HAM Bukan Hanya Seremoni Tahunan, tetapi Nilai Hidup Setiap Hari
Peringatan Hari Hak Asasi Manusia 2025 menjadi momentum mengingatkan dunia bahwa HAM adalah hak lahiriah setiap manusia. Tema “Our Everyday Essentials” mengajak masyarakat melihat HAM lebih dekat dengan kehidupan mereka. Bukan sekadar wacana internasional, tetapi prinsip yang hidup dalam tindakan sehari-hari.
Semakin banyak individu memahami peran HAM, semakin kuat fondasi sosial yang inklusif dan adil. Peringatan ini tidak hanya merayakan perjalanan sejarah, namun membuka ruang refleksi bahwa masa depan yang manusiawi hanya dapat terwujud bila setiap negara, komunitas, dan individu menghormati hak satu sama lain.
baca juga di sini : KNPI Sulsel Pecah Kongsi Usai Musda Ricuh, Fadel-Vonny Klaim Terpilih Ketua