Canda Bahlil Lailatul Qadar Golkar Jika Kursi Bertambah

Canda Bahlil Lailatul Qadar Golkar Jika Kursi Bertambah

catmera, Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, berkelakar bahwa “Lailatul Qadar” bagi partainya adalah bertambahnya jumlah kursi di parlemen. Candaan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri acara peringatan Nuzulul Quran sekaligus buka puasa bersama yang digelar di kantor DPP Golkar, Jumat (6/3/2026).

Dalam sambutannya, Bahlil awalnya berbicara mengenai makna malam Lailatul Qadar, yang dalam ajaran Islam diyakini sebagai malam penuh berkah bagi umat Muslim. Ia kemudian menyampaikan gurauan terkait harapan politik partainya.

“Ini insyaallah kalau orang yang selalu diberikan berkah, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun. Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah,” ujar Bahlil di DPP Golkar, seperti dikutip Sabtu (7/3/2026).

Pernyataan tersebut langsung disambut tawa para kader yang hadir. Meski disampaikan dengan nada bercanda, Bahlil menegaskan bahwa peningkatan kursi di parlemen merupakan salah satu target penting bagi partai menjelang pemilu mendatang.

baca juga: Sahroni Pastikan Partai NasDem Dorong RUU PPRT Disahkan

Kekuasaan Harus Berlandaskan Nilai Al-Qur’an

Selain menyampaikan candaan, Bahlil juga menekankan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam menjalankan kekuasaan. Ia menilai kader Golkar yang berada di posisi eksekutif maupun legislatif harus memaknai jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, kekuasaan bukan sekadar alat untuk mencapai kepentingan politik. Sebaliknya, kekuasaan harus menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat.

“Jadi kalau kader Partai Golkar di eksekutif maupun legislatif, ini tidak hanya sekadar kekuasaan yang kita rebut, tapi kekuasaan amanah itu harus menjadi rahmatan lil ‘alamin,” kata Bahlil.

Ia menambahkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan. Oleh karena itu, para kader diharapkan dapat menggunakan jabatan mereka untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

“Karena setiap kekuasaan itu insyaallah akan menjadi instrumen pengabdian dan kita akan mempertanggungjawabkan nanti di Yaumul Mahsyar ketika kita kembali kepada Sang Khalik,” lanjutnya.

Bahlil juga mengingatkan bahwa pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban mengenai sejauh mana manfaat yang diberikan kepada masyarakat selama menjabat. Pesan tersebut disampaikan agar kader Golkar tetap menjaga integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas politik.

Golkar Mulai Membahas Target Pemilu 2029

Di sisi lain, Partai Golkar juga mulai membicarakan target politik pada Pemilu 2029. Sekretaris Jenderal Golkar, Sarmuji, menegaskan bahwa partainya menargetkan peningkatan perolehan suara secara signifikan dibandingkan hasil sebelumnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam peringatan hari ulang tahun Fraksi Golkar ke-58 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Februari lalu. Menurut Sarmuji, partai berlambang pohon beringin itu tidak hanya ingin mempertahankan suara yang ada, tetapi juga meningkatkan perolehan secara signifikan.

“Bukan hanya sekadar jadi, tetapi suaranya meningkat. Kalau sekarang dapat suara 100 ribu, ya 2029 meningkat sekitar 20 persen minimal dari 100 ribu menjadi 120 ribu,” kata Sarmuji dalam sambutannya.

Sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR, ia berharap pada pemilu mendatang partainya dapat memiliki perwakilan di setiap daerah pemilihan. Dengan demikian, Golkar diharapkan mampu menjadi kekuatan politik yang dominan di berbagai wilayah.

Sarmuji juga menekankan pentingnya kerja sama dan disiplin di antara kader partai. Ia meminta anggota fraksi untuk terus menjaga hubungan dengan konstituen di daerah pemilihan masing-masing.

“Dengan demikian, kita menjadi lokomotif partai di masing-masing daerah. Partai Golkar menambah kursi di masing-masing dapil,” ungkapnya.

Kader Golkar Diminta Dukung Pemerintah

Selain membahas target pemilu, Sarmuji juga mengingatkan kader Golkar agar tetap menjaga sikap politik sebagai bagian dari koalisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa kader partai tidak boleh menyerang kebijakan pemerintah yang dipimpin Prabowo Subianto sebagai presiden dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.

Menurutnya, sikap tersebut merupakan konsekuensi politik karena Golkar berada dalam koalisi pemerintahan. Oleh karena itu, fraksi Golkar di parlemen diharapkan dapat mendukung berbagai program pemerintah.

“Jangan pernah menyerang kebijakan Presiden dan Wakil Presiden sebagai konsekuensi kita berada di koalisi pemerintah,” kata Sarmuji.

Ia juga menekankan bahwa fraksi Golkar harus mendukung berbagai agenda pemerintah, termasuk program Asta Cita yang menjadi prioritas pemerintahan saat ini.

Jaga Soliditas Internal Koalisi

Selain itu, Sarmuji mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi di dalam koalisi. Ia meminta kader Golkar tidak saling menyerang, terutama terhadap sesama anggota koalisi maupun menteri yang berasal dari partai.

Menurutnya, jika terdapat perbedaan pendapat atau masalah internal, sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi internal sebelum dibahas dalam forum resmi.

“Kita punya banyak menteri dan wakil menteri. Kalau ada hal-hal yang perlu dibicarakan di antara kawan sendiri, tolong kasih masukan sebelum rapat dimulai,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar kader partai tidak menimbulkan konflik internal yang dapat merugikan partai maupun koalisi.

“Jangan sampai jeruk makan jeruk,” tambahnya.

Fokus pada Konsolidasi Partai

Pernyataan Bahlil dan Sarmuji menunjukkan bahwa Partai Golkar saat ini mulai fokus pada konsolidasi internal sekaligus mempersiapkan strategi menghadapi pemilu mendatang.

Candaan Bahlil mengenai “Lailatul Qadar” bagi Golkar memang disampaikan dalam suasana santai. Namun di balik gurauan tersebut, tersirat ambisi partai untuk meningkatkan kekuatan politiknya di masa depan.

Dengan dukungan kader di berbagai tingkat, Golkar berharap dapat memperluas basis dukungan sekaligus meningkatkan jumlah kursi di parlemen pada pemilu mendatang.

baca juga: Sufmi Dasco Ahmad Serukan Persatuan sebagai Kekuatan Bangsa