catmera, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendorong normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan Israel. Langkah itu menjadi bagian dari upaya diplomatik Washington untuk mengakhiri konflik dengan Iran yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Permintaan tersebut disampaikan Trump dalam percakapan telepon bersama sejumlah pemimpin Timur Tengah pada Sabtu, 24 Mei 2026. Menurut laporan media internasional, pembicaraan itu melibatkan pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, hingga Bahrain.
Trump meminta negara-negara tersebut mempertimbangkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel apabila ingin perang Iran segera berakhir. Namun, usulan itu belum mendapat tanggapan positif dari para pemimpin yang mengikuti pembicaraan.
Situasi tersebut menunjukkan isu normalisasi hubungan dengan Israel masih menjadi persoalan sensitif di kawasan Timur Tengah. Banyak negara Arab tetap berhati-hati karena tekanan politik domestik dan solidaritas terhadap Palestina masih sangat kuat.
baca juga: LMND: Sikap Prabowo soal Pasal 33 Sejalan Ekonomi Berdikari
Negosiasi Iran Jadi Fokus Diplomasi Amerika Serikat
Pemerintah AS saat ini sedang berupaya merampungkan kesepakatan baru dengan Iran. Kesepakatan tersebut dikabarkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari sebagai langkah awal meredakan konflik.
Trump menilai peluang tercapainya kesepakatan cukup besar. Ia bahkan menyebut proses negosiasi sudah memasuki tahap penting dan membutuhkan dukungan negara-negara kawasan.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa kesepakatan itu akan menjadi perjanjian yang “baik dan tepat” bagi stabilitas Timur Tengah.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengingatkan bahwa negosiasi nuklir dengan Iran membutuhkan waktu panjang. Menurut Rubio, penyelesaian konflik tidak dapat dilakukan secara instan karena melibatkan isu keamanan regional dan kepentingan banyak negara.
Pemerintah AS juga tetap menegaskan tujuan utama mereka, yaitu memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Isu tersebut masih menjadi perhatian utama Washington dan sekutu-sekutunya di kawasan.
Negara Arab Belum Respons Usulan Trump
Meski seluruh pemimpin negara yang terlibat mendukung upaya perdamaian dengan Iran, mereka tidak memberikan jawaban langsung terkait ajakan normalisasi hubungan dengan Israel.
Salah satu pejabat AS bahkan menyebut suasana percakapan sempat hening ketika Trump menyampaikan usulan tersebut. Trump kemudian bercanda untuk memastikan para pemimpin masih berada di jalur telepon.
Respons dingin tersebut memperlihatkan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel belum menjadi prioritas utama sebagian negara Arab. Banyak negara masih mempertimbangkan dampak politik, sosial, dan keamanan sebelum mengambil langkah diplomatik besar.
Hingga kini, hanya beberapa negara Arab yang resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Israel melalui Perjanjian Abraham pada 2020. Negara tersebut meliputi Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Sementara Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan masih belum membuka hubungan resmi dengan Israel. Ketegangan terkait konflik Palestina juga terus memengaruhi sikap politik negara-negara tersebut.
Israel Khawatir Kesepakatan Baru Menguntungkan Iran
Di sisi lain, sejumlah pejabat Israel justru khawatir terhadap arah negosiasi yang sedang dilakukan Amerika Serikat. Media Israel melaporkan beberapa pejabat senior menilai kesepakatan itu belum sepenuhnya melindungi kepentingan keamanan Israel.
Mereka menilai pembahasan saat ini belum mencakup program rudal balistik Iran dan dukungan Tehran terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.
Pejabat Israel juga cemas Iran akan memanfaatkan kesepakatan damai untuk memperkuat ekonomi dan militernya sebelum negosiasi lanjutan dimulai.
Kondisi ini membuat pemerintah Israel terus memantau perkembangan diplomasi AS secara ketat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan akan kembali berdiskusi dengan Trump dalam waktu dekat.
Trump berharap Netanyahu nantinya dapat ikut terlibat dalam pembicaraan bersama pemimpin Arab dan Muslim demi memperluas kerja sama regional.
Perjanjian Abraham Kembali Jadi Sorotan
Trump juga menyinggung kemungkinan perluasan Perjanjian Abraham sebagai bagian dari strategi perdamaian baru di Timur Tengah.
Perjanjian Abraham merupakan kesepakatan diplomatik yang dimediasi AS pada 2020. Kesepakatan itu membuka hubungan resmi antara Israel dengan beberapa negara Arab.
Pemerintah AS menilai model tersebut dapat menjadi fondasi baru bagi stabilitas kawasan. Trump bahkan menyebut kemungkinan Iran suatu hari ikut bergabung dalam skema kerja sama regional tersebut.
Pernyataan itu memunculkan berbagai reaksi karena hubungan Iran dan Israel selama ini dikenal sangat tegang. Konflik geopolitik kedua negara telah berlangsung selama puluhan tahun dan sering melibatkan perang proksi di berbagai wilayah Timur Tengah.
Meski begitu, sejumlah pihak di Washington percaya diplomasi tetap menjadi jalur terbaik dibanding eskalasi militer yang berisiko memperluas konflik.
Konflik Timur Tengah Memasuki Babak Baru
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada awal 2026. Iran kemudian membalas dengan menyerang target Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi semakin memburuk setelah Iran sempat menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia. Penutupan jalur tersebut langsung memengaruhi pasar minyak global dan meningkatkan kekhawatiran ekonomi internasional.
Melalui mediasi Pakistan, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata pada April 2026. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang tanpa batas waktu sambil menunggu proses diplomasi lanjutan.
Pemerintah AS kini berusaha menjaga momentum perdamaian agar konflik tidak kembali meluas. Dukungan negara-negara Arab dianggap penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Meski jalur diplomatik masih terbuka, tantangan menuju perdamaian permanen tetap besar. Persaingan geopolitik, isu nuklir Iran, dan konflik Palestina masih menjadi hambatan utama dalam upaya membangun stabilitas Timur Tengah secara menyeluruh.
baca juga: AS Klaim Ada Kemajuan soal Pembukaan Selat Hormuz