Cat Mera AHY Jelaskan Penyebab Bandara Kertajati Sepi Penumpang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, mengungkap bahwa salah satu sebab utama sepinya BIJB Kertajati adalah lokasi yang cukup terpencil. Meskipun infrastrukturnya “besar, bagus, megah”, konektivitas ke wilayah sekitar dianggap belum optimal. Tempo+3suara.com+3CNN Indonesia+3
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, masih mengalami rendahnya tingkat kunjungan. AHY menilai posisi geografis yang jauh dari pusat kota dan infrastruktur akses yang terlambat menjadi faktor utama. Meski dibangun dengan skala besar, bandara ini belum optimal dalam menjalankan peran strategisnya.
Menurut AHY, bandara dibangun dengan semangat mendorong integrasi wilayah — inklusifnya pengembangan kawasan Rebana yang mencakup Majalengka, Cirebon, dan sekitarnya. detikTravel+2suara.com+2 Namun, posisi bandara yang “in the middle of nowhere” membuatnya kurang menarik bagi maskapai dan penumpang. detikTravel+1 AHY menyatakan bahwa pembangunan akses jalan tol maupun transportasi publik ke area tersebut mesti dipercepat agar bandara tak hanya menjadi infrastruktur saja, tetapi pengungkit ekonomi kawasan. suara.com+1
Dia juga menyampaikan bahwa langkah strategis tengah dijalankan, salah satunya dengan menjalin kerja sama antara pengelola BIJB Kertajati dengan Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF) untuk menjadikan lokasi ini sebagai pusat MRO (Maintenance-Repair-Overhaul) pesawat. Dengan demikian, bandara bisa memiliki aktivitas industri yang mendukung ekonomi lokal — tidak hanya penerbangan penumpang. CNN Indonesia+1
“Besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere, di Majalengka, Kawasan Rebana namanya.” — AHY pada konferensi pers, 21 Oktober 2025. detikTravel+1
Ke depan, agar BIJB Kertajati dapat berfungsi optimal sebagai pintu masuk dan pusat ekonomi wilayah barat Jawa, diperlukan percepatan pengembangan konektivitas — jalan tol, transportasi publik, hingga sinergi kawasan industri. Jika integrasi ini berjalan, bandara tidak hanya menjadi “bangunan megah” saja, tetapi menjadi tulang punggung pengembangan wilayah. AHY mengajak semua pihak besar hati melakukan evaluasi dan bergerak bersama.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti sepinya aktivitas di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Ia menyebut, lokasi bandara yang terpencil menjadi penyebab utama minimnya penumpang. Namun, AHY menegaskan bahwa semangat pembangunan Kertajati adalah untuk mendorong integrasi wilayah dan pertumbuhan ekonomi kawasan Rebana.
AHY Jelaskan Penyebab Bandara Kertajati Sepi Penumpang Lokasi Terpencil Hambat Potensi Bandara
AHY menjelaskan, Bandara Kertajati dibangun dengan konsep besar dan modern, tetapi kurang diimbangi dengan akses transportasi yang memadai. Menurutnya, konektivitas menuju bandara harus diperkuat agar kawasan Majalengka, Cirebon, dan Bandung saling terhubung.
“Kalau kemudian terisolir, tidak nyambung satu sama lain dan tidak terintegrasi, maka sayang. Itu perlu kita hubungkan dengan wilayah lainnya,” ujar AHY.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan akan optimal bila disertai dengan jaringan transportasi pendukung seperti jalan tol dan akses kereta cepat.
Pemerintah berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Bandara Kertajati. AHY menilai penting bagi semua pihak untuk tidak berhenti pada kritik, tetapi mencari solusi konkret. Salah satunya adalah dengan menjadikan Kertajati sebagai pusat industri perawatan dan perbaikan pesawat (MRO).
Kementerian Koordinator IPK, bersama Garuda Maintenance Facility (GMF), Bappenas, dan Kementerian Perhubungan, tengah mendorong kerja sama strategis. Langkah awalnya adalah pengembangan fasilitas MRO untuk helikopter, yang ke depan dapat diperluas ke pesawat berbadan tetap (fixed wing).
“Kalau ada kegiatan strategis seperti MRO, itu bisa membuka wilayah dan menciptakan peluang baru,” kata AHY.
Dalam kesempatan sebelumnya, AHY menyebut Bandara Kertajati sebagai bandara megah yang berada “in the middle of nowhere”. Infrastruktur yang megah dan fasilitas lengkap belum mampu menarik banyak penerbangan karena terlambatnya pembangunan konektivitas.
“Bandaranya dibangun dulu, konektivitasnya menyusul. Akibatnya tanggung. Kawasannya belum hidup,” ungkap AHY.
Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memberikan penyertaan modal daerah (PMD) sebesar Rp150 miliar pada 2025–2026 kepada PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Dana ini diharapkan dapat memperkuat regulasi, menambah rute penerbangan, dan mempercepat pengembangan kawasan sekitar bandara.
Kertajati memiliki potensi besar sebagai pusat transportasi dan industri di Jawa Barat. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada integrasi antarwilayah dan percepatan konektivitas. Dengan rencana pengembangan MRO dan tambahan investasi daerah, pemerintah berharap Bandara Kertajati bisa segera bertransformasi menjadi simpul ekonomi strategis di kawasan Rebana.